Beranda Pagar Alam QRIS Digencarkan di Pagar Alam, Tapi Tantangan UMKM Belum Selesai

QRIS Digencarkan di Pagar Alam, Tapi Tantangan UMKM Belum Selesai

3
0
Wakil Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha membuka Gebyar QRIS dan Perlindungan Konsumen (Gebyar QRIS-PK) 2026 di Lapangan Merdeka Kota Pagar Alam, Sabtu (29/8/2026). (Foto: Hafis/CimutNews)

PAGAR ALAM, cimutnews.co.id — Digitalisasi pembayaran kembali didorong di Kota Pagar Alam. Melalui Gebyar QRIS dan Perlindungan Konsumen (Gebyar QRIS-PK) 2026, Bank Indonesia bersama Pemerintah Kota Pagar Alam mengajak masyarakat dan pelaku UMKM semakin terbiasa menggunakan transaksi nontunai.

Namun, di balik kemeriahan acara dan dorongan menuju ekonomi digital, ada persoalan yang tidak kalah penting: sejauh mana digitalisasi pembayaran benar-benar sudah menjangkau dan memberi manfaat bagi seluruh pelaku usaha serta masyarakat di Pagar Alam?

Pertanyaan itu menjadi relevan karena penggunaan QRIS bukan hanya soal menyediakan kode pembayaran. Ada persoalan literasi digital, keamanan transaksi, akses layanan keuangan, hingga kesiapan pelaku UMKM menghadapi perubahan perilaku konsumen.

Gebyar QRIS Digelar di Lapangan Merdeka

Gebyar QRIS-PK Tahun 2026 digelar di Lapangan Merdeka Kota Pagar Alam, Sabtu (29/8/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Pekan QRIS Nasional (PQN), sekaligus momentum memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Wakil Wali Kota Pagar Alam, Hj. Bertha, hadir sekaligus membuka kegiatan tersebut.

Acara juga dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Bambang Pramono, unsur Forkopimda, Ketua TP PKK Kota Pagar Alam Hj. Hera Parianti Ludi, jajaran Pemkot Pagar Alam, perbankan, instansi vertikal, organisasi wanita, pelaku UMKM, mahasiswa, pelajar hingga masyarakat.

Rangkaian kegiatan dibuat cukup beragam. Selain sosialisasi QRIS dan perlindungan konsumen, terdapat senam sehat massal, expo dan bazar produk UMKM, pasar murah Bulog serta edukasi interaktif.

QRIS Dianggap Strategis untuk Ekonomi Daerah

Dalam sambutannya, Hj. Bertha mengapresiasi Bank Indonesia Sumatera Selatan yang memilih Pagar Alam sebagai salah satu lokasi pelaksanaan Gebyar QRIS-PK 2026.

Baca juga  Stunting Pagar Alam Ditekan, 66 Keluarga Berisiko Dapat Intervensi Gizi Lewat Program Genting

Menurutnya, penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Digitalisasi sistem pembayaran dinilai dapat mendukung sejumlah sektor yang menjadi penggerak ekonomi Pagar Alam, terutama UMKM, perdagangan, pariwisata dan pelayanan publik.

Pemerintah daerah juga mendorong agar digitalisasi tersebut berjalan beriringan dengan pemberdayaan pelaku usaha lokal.

Pesannya cukup jelas: QRIS tidak sekadar dipandang sebagai alat pembayaran, tetapi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi digital daerah.

Namun Fakta di Lapangan Bukan Sekadar Soal QR Code

Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan digitalisasi pembayaran tidak cukup diukur dari semakin banyaknya kode QR yang digunakan pedagang.

Ada persoalan lain yang ikut menentukan.

Apakah seluruh pelaku UMKM sudah memahami cara menggunakan QRIS dengan aman? Apakah mereka mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika transaksi bermasalah? Seberapa jauh pemahaman konsumen terhadap hak mereka ketika terjadi kesalahan pembayaran atau dugaan penipuan digital?

Hal ini menjadi penting karena semakin luas transaksi digital digunakan, semakin besar pula kebutuhan masyarakat terhadap literasi dan perlindungan konsumen.

Dengan kata lain, digitalisasi membawa kemudahan sekaligus tanggung jawab baru.

Perlindungan Konsumen Jadi Bagian yang Tak Boleh Terlewat

Gebyar QRIS-PK 2026 juga menempatkan perlindungan konsumen sebagai bagian dari kegiatan.

Edukasi mengenai keamanan transaksi digital menjadi salah satu agenda yang diangkat.

Langkah tersebut penting karena konsumen tidak hanya membutuhkan metode pembayaran yang cepat, tetapi juga kepastian bahwa transaksi dilakukan melalui sistem yang aman dan mereka memahami hak-haknya.

Di sisi lain, pelaku UMKM juga membutuhkan pendampingan agar tidak hanya mampu menerima pembayaran digital, tetapi memahami mekanisme transaksi, pencatatan, keamanan akun dan potensi persoalan yang dapat muncul.

Baca juga  Pelantikan Pejabat Baru Picu Harapan Besar di Pagar Alam

Hingga kini, belum semua aspek tersebut dapat dilihat hanya dari sebuah kegiatan sosialisasi satu hari.

Dibutuhkan edukasi yang berkelanjutan dan pendampingan yang benar-benar menyentuh pelaku usaha di tingkat bawah.

UMKM Menjadi Ujian Sebenarnya

Bagi Pagar Alam, sektor UMKM memiliki posisi penting dalam perputaran ekonomi masyarakat.

Karena itu, keberhasilan program digitalisasi pembayaran pada akhirnya akan terlihat dari aktivitas ekonomi sehari-hari, bukan hanya dari ramainya expo atau kegiatan seremonial.

Pedagang di pasar, pelaku usaha kuliner, pengelola usaha wisata, pedagang oleh-oleh hingga usaha kecil di lingkungan masyarakat merupakan bagian dari ekosistem yang akan menentukan apakah transformasi pembayaran digital benar-benar berjalan.

Jika QRIS hanya tersedia tetapi tidak dipahami, manfaatnya tentu belum maksimal.

Sebaliknya, apabila pelaku UMKM mampu menggunakannya dengan baik dan konsumen merasa aman, transaksi digital berpotensi menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses pasar dan memperbaiki efisiensi pembayaran.

Ada Pertanyaan yang Belum Terjawab

Pemerintah Kota Pagar Alam berharap kegiatan tersebut mampu memperkuat ekosistem ekonomi digital, meningkatkan daya saing UMKM dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Harapan itu tentu membutuhkan tindak lanjut.

Sebab, pekerjaan berikutnya bukan lagi sekadar memperkenalkan QRIS, melainkan memastikan masyarakat mampu menggunakannya secara aman, memahami risikonya dan memperoleh perlindungan ketika menghadapi persoalan transaksi.

Belum ada penjelasan rinci dalam bahan kegiatan ini mengenai seberapa luas penggunaan QRIS di kalangan UMKM Pagar Alam, berapa banyak pelaku usaha yang telah menggunakannya secara aktif, maupun bagaimana evaluasi penggunaan QRIS setelah program edukasi dilakukan.

Pertanyaan akhirnya adalah: apakah geliat digitalisasi pembayaran di Pagar Alam benar-benar akan terasa sampai ke lapisan UMKM paling bawah, atau masih membutuhkan pekerjaan rumah yang lebih panjang?

Baca juga  Kapolda Sumsel Apresiasi Personel Berprestasi, Polres Pagaralam Didorong Terus Jaga Integritas dan Pelayanan Publik

Jawabannya tidak cukup terlihat dari sebuah kode QR yang terpampang di meja pedagang. Waktu dan konsistensi pendampingan akan menjadi pembuktinya. (Hafis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here