Beranda Nusantara Bandung Kejar Layanan Air 40 Persen, Tapi Pasokan Masih Bergantung Daerah Lain

Bandung Kejar Layanan Air 40 Persen, Tapi Pasokan Masih Bergantung Daerah Lain

6
0
Ilustrasi jaringan distribusi air bersih di Kota Bandung yang terus dikembangkan untuk memperluas cakupan layanan kepada masyarakat. (Foto: Ilustrasi/CimutNews)

BANDUNG, cimutnews.co.id — Pemerintah Kota Bandung kembali melanjutkan rencana besar untuk memperluas layanan air bersih perpipaan. Targetnya, cakupan layanan meningkat dari sekitar 38 persen menjadi 40 persen melalui pasokan air baku dari Waduk Saguling dan Cirata.

Namun di balik optimisme tersebut, proyek yang digadang-gadang mampu memasok hingga 3.500 liter air per detik itu ternyata masih menghadapi kendala yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, kapan tambahan pasokan air tersebut benar-benar bisa dinikmati masyarakat?

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Bandung masih melanjutkan pembahasan investasi pembangunan jaringan pipa air baku dari Waduk Saguling dan Cirata menuju Kota Bandung.

Menurutnya, seluruh persiapan teknis pada dasarnya telah dilakukan. Akan tetapi, hingga saat ini proyek tersebut masih menunggu persetujuan dari Indonesia Power sebagai pengelola sumber air.

“Kita sedang melanjutkan pembicaraan investasi pembangunan pipa dari Saguling dan Cirata sebanyak 3.500 liter per detik ke Kota Bandung. Semua sudah siap, tapi sampai hari ini kami belum mendapatkan persetujuan dari Indonesia Power,” ujar Farhan.

Selain persoalan administrasi dan investasi, tantangan lain muncul dari kondisi alam yang sulit diprediksi.

Farhan menjelaskan, saat musim kemarau debit air di Waduk Saguling berpotensi mengalami penurunan sehingga pasokan menuju Kota Bandung juga dapat terdampak.

“Dalam keadaan musim kemarau, kalau air di Indonesia Power kurang, ya kita tidak bisa dapat air. Maka itu masih jadi pembicaraan secara teknis yang tidak mudah sama sekali,” katanya.

Fakta di Lapangan Masih Menunjukkan Ketergantungan

Di atas kertas, peningkatan layanan perpipaan menjadi 40 persen merupakan langkah maju.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, Kota Bandung hingga kini belum memiliki sumber air baku yang memadai di wilayahnya sendiri.

Baca juga  Muhammadiyah Tekankan Ikhtilaf dan Persatuan Umat dalam Silaturahim Syawalan 1447 H

Artinya, hampir seluruh kebutuhan air bersih perpipaan masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Kondisi tersebut membuat keberlangsungan distribusi air tidak hanya bergantung pada kesiapan infrastruktur, tetapi juga pada ketersediaan air di daerah pemasok.

Ketergantungan ini menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika musim kemarau datang atau kebutuhan air di wilayah sumber meningkat.

Farhan mengakui, kondisi tersebut menjadi alasan mengapa pemerintah memilih meningkatkan cakupan layanan secara bertahap, bukan langsung mengejar seluruh kebutuhan masyarakat.

“Kalau sekarang kita masih mengejar 40 persen dulu, dari 38 persen ke 40 persen. Kenapa tidak bisa langsung ke 100 persen? Karena sumber air baku di Kota Bandung sudah tidak ada. Kita membeli semuanya dari provinsi dan kabupaten,” ungkapnya.

Alternatif dari Sungai Cikapundung

Di sisi lain, Pemerintah Kota Bandung juga menyiapkan alternatif melalui pemanfaatan air Sungai Cikapundung.

Air sungai tersebut direncanakan diolah menggunakan teknologi penyulingan atau filterisasi agar dapat dimanfaatkan sebagai air bersih untuk kebutuhan nonkonsumsi, seperti mandi, mencuci, maupun kegiatan kebersihan lainnya.

Langkah ini dinilai dapat membantu mengurangi tekanan terhadap kebutuhan air baku, meski belum dapat digunakan sebagai air minum secara langsung.

Kehilangan Air Masih Menjadi Tantangan

Selain menambah pasokan, pemerintah juga berupaya meningkatkan efisiensi jaringan distribusi.

Pemkot Bandung menyebut tingkat kehilangan air (non-revenue water) berhasil ditekan dari sekitar 40 persen menjadi 37 persen melalui perbaikan jaringan bersama mitra serta dukungan Pemerintah Jepang.

Meski demikian, angka kehilangan air tersebut masih tergolong cukup besar sehingga perbaikan jaringan diperkirakan tetap menjadi pekerjaan yang harus dilanjutkan dalam beberapa tahun mendatang.

Suara dan Harapan Masyarakat

Sejumlah warga berharap rencana peningkatan layanan tidak berhenti pada tahap perencanaan.

Baca juga  Gubernur Dedi Mulyadi Salat Idulfitri Bersama Ribuan Warga di Bandung

Bagi sebagian masyarakat, akses air bersih yang stabil menjadi kebutuhan mendasar, terutama ketika musim kemarau mulai mengurangi debit sumur maupun sumber air alternatif.

Beberapa pihak juga menilai percepatan pembangunan jaringan distribusi akan berdampak positif terhadap kualitas hidup masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber air individu.

Masih Ada Pekerjaan Rumah

Rencana investasi jaringan pipa dari Saguling dan Cirata menunjukkan adanya komitmen pemerintah untuk memperluas layanan air bersih.

Namun keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, melainkan juga kepastian pasokan air, persetujuan lintas lembaga, serta kemampuan menjaga distribusi tetap stabil sepanjang tahun.

Hingga kini, belum semua tahapan proyek tersebut selesai dan belum ada penjelasan rinci mengenai target waktu dimulainya pembangunan maupun kapan tambahan layanan dapat dinikmati masyarakat secara luas.

Apakah target layanan air perpipaan 40 persen dapat tercapai sesuai rencana, atau justru masih menghadapi tantangan baru ketika musim kemarau dan proses persetujuan belum rampung? Jawabannya masih akan sangat bergantung pada perkembangan pembahasan teknis dan koordinasi antarinstansi dalam waktu mendatang. (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here