
KOTA BANDUNG, CimutNews.co.id – Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) melakukan transformasi menyeluruh terhadap program penanggulangan pengangguran. Langkah ini ditempuh menyusul masih tingginya jumlah pengangguran di Kota Bandung yang diperkirakan mencapai sekitar 99.300 orang, di tengah tekanan ekonomi akibat inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, hingga kenaikan biaya operasional dunia usaha.
Transformasi tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah pelatihan kerja, tetapi juga mengubah pola pelayanan ketenagakerjaan agar lebih efektif, berbasis kebutuhan industri, dan mampu menghasilkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi serta sertifikasi sesuai kebutuhan pasar.
Kepala Disnaker Kota Bandung, Yayan Ahmad Brilyana, mengatakan pihaknya tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai program yang selama ini berjalan agar anggaran pemerintah benar-benar memberikan dampak terhadap penurunan angka pengangguran.
“Angka pengangguran kita memang masih tinggi. Karena itu kami terus bekerja keras agar jumlah tersebut terus berkurang meskipun situasi ekonomi sedang penuh tantangan,” ujar Yayan di Kantor Disnaker Kota Bandung, Selasa (30/6/2026).
Disnaker Fokus pada Pelatihan Berbasis Kompetensi
Mulai tahun 2027, Disnaker Kota Bandung akan menerapkan pembagian peran dalam penyelenggaraan pelatihan kerja.
Pelatihan dasar seperti tata boga, tata rambut, kewirausahaan, maupun keterampilan digital yang tidak memerlukan sertifikasi akan dilaksanakan oleh perangkat daerah lain, seperti Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, serta Dinas Sosial.
Sementara itu, Disnaker akan memusatkan programnya pada pelatihan berbasis kompetensi yang menghasilkan sertifikat profesi sehingga lulusan memiliki daya saing lebih tinggi ketika memasuki dunia kerja.
Strategi tersebut sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan pendidikan vokasi dan sertifikasi kompetensi sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2025–2029, pengembangan SDM dalam Asta Cita Pemerintah, serta visi Indonesia Emas 2045 yang menargetkan tenaga kerja Indonesia semakin produktif dan kompetitif.
Menurut berbagai kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan, sertifikasi kompetensi menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan peluang kerja sekaligus mempersempit kesenjangan antara kebutuhan industri dengan kompetensi pencari kerja.
Skema Magang Luar Negeri Berubah, Bantuan Lebih Tepat Sasaran
Selain pelatihan, Disnaker juga mengubah pola pemberian bantuan bagi peserta magang maupun penempatan kerja ke luar negeri.
Apabila sebelumnya pemerintah terlebih dahulu melatih peserta secara massal, kini bantuan diberikan kepada warga yang telah dinyatakan diterima oleh Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) sebagai calon pekerja atau peserta magang di luar negeri.
Dengan pola tersebut, pemerintah dapat memastikan bantuan diberikan kepada peserta yang benar-benar siap berangkat.
“Kami sekarang jemput bola. Ketika ada warga Bandung yang sudah siap berangkat melalui LPK, kami memberikan subsidi. Dengan begitu bantuan menjadi lebih tepat sasaran,” kata Yayan.
Menurutnya, evaluasi menunjukkan sebagian peserta pada pola sebelumnya batal berangkat karena berbagai faktor, termasuk alasan keluarga. Karena itu, pendekatan baru dinilai lebih efisien dan mampu meningkatkan tingkat keberhasilan penempatan tenaga kerja ke luar negeri.
Job Fair Bertransformasi Menjadi Layanan Digital
Perubahan signifikan juga dilakukan pada penyelenggaraan job fair.
Jika sebelumnya kegiatan dipusatkan di satu lokasi, mulai tahun ini job fair akan digelar secara bergilir di berbagai kecamatan sehingga lebih dekat dengan masyarakat sekaligus memperluas akses pencari kerja.
Disnaker juga memperkuat sistem rekrutmen melalui aplikasi New Bimma, sehingga proses pencarian kerja dapat dilakukan secara daring.
Melalui platform tersebut, pencari kerja dapat mengunggah dokumen, mengisi profil, hingga melamar pekerjaan tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Saat ini tersedia lebih dari 2.492 lowongan pekerjaan dari sekitar 20 perusahaan, ditambah sekitar 1.792 lowongan kerja dari platform nasional yang juga dapat diakses masyarakat.
“Hal yang kami lakukan adalah mempertemukan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja dengan masyarakat yang mencari pekerjaan. Karena itu intensitas job fair kami tingkatkan menjadi sebulan sekali dan pelaksanaannya dibuat lebih efisien melalui sistem online,” jelas Yayan.
Talent Hub Bantu Pencari Kerja Mengenali Potensi
Tidak hanya menyediakan informasi lowongan kerja, Disnaker juga menghadirkan layanan Talent Hub secara gratis.
Program ini menyediakan layanan psikotes minat dan bakat bersama psikolog profesional sehingga masyarakat dapat memahami potensi, karakter, dan bidang pekerjaan yang paling sesuai.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena masih banyak pencari kerja yang melamar pekerjaan tanpa mempertimbangkan kecocokan kompetensi maupun karakter pribadi.
Melalui Talent Hub, proses pencocokan antara kebutuhan perusahaan dan kompetensi tenaga kerja diharapkan menjadi lebih efektif.
Kebutuhan Tenaga Kerja Masih Didominasi Sektor Perdagangan
Berdasarkan pemetaan Disnaker Kota Bandung, kebutuhan tenaga kerja saat ini masih didominasi sektor perdagangan, ritel, pemasaran (sales), logistik, serta ekspedisi.
Sementara itu, peluang kerja di sektor perhotelan masih relatif terbatas dibandingkan masa sebelum pandemi, meskipun kebutuhan terhadap kemampuan komunikasi, pelayanan pelanggan, dan public speaking tetap menjadi kompetensi yang banyak dicari perusahaan.
Target Pengangguran Terbuka Turun Menjadi 7,22 Persen
Pemerintah Kota Bandung menargetkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 7,22 persen pada 2026.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja.
Sebagai pembanding, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren menurun seiring pemulihan ekonomi pascapandemi. Namun, kawasan perkotaan masih menghadapi tantangan lebih besar dibanding wilayah perdesaan karena tingginya pertumbuhan angkatan kerja dan persaingan memperoleh pekerjaan.
Di kota-kota besar seperti Bandung, tantangan tersebut semakin kompleks karena setiap tahun ribuan lulusan baru dari perguruan tinggi maupun sekolah vokasi memasuki pasar kerja.
Respons Positif Pencari Kerja terhadap Sistem Digital
Transformasi layanan digital mendapat respons positif dari masyarakat.
Salah seorang pencari kerja, Resa Septiani, mengaku sistem rekrutmen melalui aplikasi mempermudah proses seleksi karena peserta telah mengisi tahapan administrasi sebelum wawancara.
“Lebih mudah lewat web. Jadi saat interview kita sudah tahu pertanyaan-pertanyaan awal yang sebelumnya diisi di aplikasi,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Teguh Putra yang baru mengikuti proses wawancara kerja.
Menurutnya, sistem daring membuat proses pencarian kerja lebih hemat waktu dan biaya karena pelamar hanya datang ketika memperoleh panggilan wawancara.
“Menurut saya lebih enak melamar secara online. Tidak perlu keluar rumah hanya untuk mengirim lamaran. Datang cukup saat ada panggilan interview, jadi lebih menghemat waktu,” katanya.
Transformasi Ketenagakerjaan Perlu Menjawab Kebutuhan Industri
Transformasi yang dilakukan Disnaker Kota Bandung menunjukkan perubahan pendekatan dari sekadar memperbanyak pelatihan menjadi meningkatkan kualitas hasil pelatihan. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pemerintah daerah mulai mengalihkan fokus pada pelatihan berbasis sertifikasi karena lebih mudah diukur keberhasilannya melalui tingkat penempatan kerja.
Digitalisasi job fair juga mencerminkan perubahan pola rekrutmen perusahaan. Banyak perusahaan kini menggunakan sistem rekrutmen daring untuk mempercepat proses seleksi, mengurangi biaya administrasi, serta memperluas jangkauan pencari kerja tanpa dibatasi lokasi.
Di sisi lain, keberhasilan program ini tetap bergantung pada kemampuan dunia usaha menciptakan lapangan kerja baru. Pelatihan yang berkualitas akan lebih efektif apabila diiringi pertumbuhan investasi, ekspansi sektor industri, serta peningkatan aktivitas ekonomi lokal.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pelatihan, dunia pendidikan, dan sektor swasta menjadi faktor penting agar transformasi ini mampu memberikan dampak jangka panjang terhadap penurunan tingkat pengangguran sekaligus meningkatkan produktivitas tenaga kerja Kota Bandung (Siti)

















