Beranda Muara Enim Program Ceria Muara Enim Bentengi 128 Pelajar dari Narkoba dan Pernikahan Anak

Program Ceria Muara Enim Bentengi 128 Pelajar dari Narkoba dan Pernikahan Anak

1
0
1. Plt. Bupati Muara Enim Ir. Hj. Sumarni, M.Si., membuka Program Cerita Anak Remaja (Ceria) di Gedung Serbaguna Kecamatan Gunung Megang, Kamis (3/9/2026). (Foto: Eko/cimutnews.co.id)

MUARA ENIM, cimutnews.co.id — Persoalan remaja tidak berhenti pada ruang kelas

Pemerintah Kabupaten Muara Enim melalui Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo SP) kembali menggelar Program Cerita Anak Remaja (Ceria) di Gedung Serbaguna Kecamatan Gunung Megang, Kamis (3/9/2026).

Kegiatan bertema “Wujudkan Generasi Emas, Tangguh Hadapi Pergaulan Bebas, Narkoba dan Pernikahan Anak” tersebut melibatkan 128 pelajar SMP dan SMA sederajat se-Kecamatan Gunung Megang. Program ini tidak hanya menghadirkan edukasi, tetapi juga layanan pemeriksaan kesehatan gratis dan mobil perpustakaan keliling Membara

Di tengah tantangan yang dihadapi kelompok usia muda, pendekatan tersebut menarik diperhatikan. Pemerintah daerah tidak hanya menempatkan remaja sebagai penerima informasi, tetapi mulai menggabungkan edukasi, literasi dan akses layanan dasar dalam satu ruang kegiatan.

Mengapa edukasi remaja menjadi penting?

Plt. Bupati Muara Enim, Ir. Hj. Sumarni, M.Si., membuka kegiatan tersebut bersama unsur Forkopimda dan Kepala Diskominfo SP Vivi Mariani, S.Si., M.Bmd., Apt.

Dalam sambutannya, Sumarni menekankan pentingnya membangun karakter remaja agar mampu menghadapi risiko pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba dan pernikahan anak.

Pemerintah kecamatan, tenaga pendidik dan orang tua didorong untuk membangun sinergi dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Pesan tersebut memiliki relevansi lebih luas karena persoalan remaja sering kali tidak berdiri sendiri. Rendahnya literasi kesehatan, tekanan teman sebaya, lemahnya komunikasi keluarga dan kurangnya ruang edukasi yang aman dapat saling berkelindan dalam membentuk keputusan seorang anak.

Karena itu, pencegahan tidak cukup dilakukan setelah masalah muncul. Intervensi pada fase remaja justru menjadi salah satu titik penting untuk memutus risiko sejak awal.

Ancaman narkoba masih menyasar kelompok usia muda

Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan persoalan narkotika masih menjadi tantangan nasional. Hasil survei prevalensi 2023 mencatat prevalensi penyalahgunaan narkotika sebesar 1,73 persen atau sekitar 3,33 juta penduduk usia 15–64 tahun.

Baca juga  Operasi Pasar Murah dan Gerakan Pangan Murah Diserbu Warga Muara Enim, Pemkab Perkuat Stabilitas Harga Jelang Semester II 2026

Yang lebih relevan bagi program seperti Ceria, BNN mencatat sekitar 312.000 anak dan remaja terpapar narkotika dalam satu tahun terakhir berdasarkan hasil survei tersebut. Kelompok usia muda juga disebut sebagai kelompok yang memiliki kerentanan tinggi

Artinya, edukasi yang dilakukan di lingkungan sekolah dan komunitas bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia merupakan bagian dari strategi pencegahan sebelum seorang anak masuk lebih jauh ke dalam risiko penyalahgunaan narkotika.

Pernikahan anak juga membutuhkan pendekatan pencegahan

Ancaman lain yang menjadi perhatian dalam Program Ceria adalah pernikahan anak.

Secara nasional, BPS mencatat proporsi perempuan berusia 20–24 tahun yang pernah kawin atau hidup bersama sebelum usia 18 tahun pada 2025 sebesar 4,56 persen. Untuk Sumatera Selatan, angkanya tercatat 8,09 persen, lebih tinggi daripada angka nasional.

Angka tersebut tidak dapat serta-merta diterjemahkan sebagai kondisi khusus Kecamatan Gunung Megang karena data yang tersedia dalam sumber ini berada pada tingkat provinsi. Namun, data itu menunjukkan bahwa isu perkawinan anak masih relevan untuk dibahas dalam agenda pembangunan daerah.

Indonesia sendiri telah menetapkan batas minimal usia perkawinan bagi laki-laki dan perempuan menjadi 19 tahun melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019. Perubahan tersebut antara lain dimaksudkan untuk memberikan perlindungan terhadap hak anak, mendukung pendidikan, serta menekan risiko kesehatan dan sosial akibat perkawinan pada usia terlalu muda.

Dengan demikian, edukasi kepada pelajar mengenai konsekuensi pernikahan anak memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar persoalan keluarga. Isu tersebut berkaitan dengan keberlanjutan pendidikan, kesehatan, kesiapan psikologis, perlindungan anak dan kualitas sumber daya manusia.

Ceria tidak hanya membawa materi ke ruang pelajar

Kepala Diskominfo SP Muara Enim Vivi Mariani menjelaskan kegiatan di Gunung Megang diikuti 128 pelajar SMP dan SMA sederajat.

Baca juga  Kunjungan Cik Ujang Muara Enim, Salat Jumat dan Serap Aspirasi Warga Desa Lubuk Raman

Program Ceria merupakan program rutin LPPL Radio Suara Muara Enim di bawah Bidang Pengelolaan Komunikasi Publik (PKP). Dalam pelaksanaannya, program tersebut diarahkan untuk memberikan edukasi ramah anak, meningkatkan literasi serta membuka ruang partisipasi bagi remaja.

Kehadiran narasumber dari RSUD Dr. H.M. Rabain dan BNNK Muara Enim juga memperlihatkan pendekatan lintas sektor. Sementara mobil perpustakaan keliling Membara dan pemeriksaan kesehatan gratis memperluas kegiatan dari sekadar penyampaian materi menjadi layanan yang lebih konkret.

Micro Insight: Pencegahan tidak cukup hanya dengan larangan

Ada satu hal penting dari desain kegiatan ini: remaja tidak hanya diberi tahu mengenai apa yang dilarang, tetapi juga diperkenalkan pada sumber pengetahuan dan layanan yang dapat mereka akses.

Pendekatan tersebut penting karena pencegahan yang hanya berisi larangan berisiko kehilangan efektivitas ketika berhadapan dengan realitas pergaulan remaja. Sebaliknya, kombinasi literasi, kesehatan, komunikasi publik dan keterlibatan keluarga berpotensi menciptakan lingkungan yang membuat anak memiliki lebih banyak pilihan positif.

Tantangan berikutnya adalah keberlanjutan

Program satu hari tentu tidak dapat menyelesaikan persoalan narkoba, pergaulan bebas maupun perkawinan anak secara langsung.

Namun, kegiatan semacam ini dapat menjadi pintu masuk bagi sistem pencegahan yang lebih berkelanjutan. Pemerintah daerah memiliki ruang untuk memperkuat kolaborasi sekolah, keluarga, layanan kesehatan, BNNK, organisasi kepemudaan dan kanal komunikasi publik agar edukasi tidak berhenti setelah kegiatan selesai.

Dari sisi komunikasi publik, keberadaan LPPL Radio Suara Muara Enim juga dapat menjadi instrumen untuk menjaga kesinambungan pesan. Edukasi mengenai kesehatan reproduksi, bahaya narkoba, literasi digital, kesehatan mental dan perencanaan masa depan dapat dikemas secara berkala dengan bahasa yang lebih dekat dengan karakter remaja.

Pada akhirnya, keberhasilan program semacam Ceria tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang hadir. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pengetahuan tersebut berlanjut menjadi perubahan perilaku, meningkatnya keberanian mencari bantuan dan semakin kuatnya peran keluarga serta sekolah dalam melindungi anak.

Baca juga  Terungkap, Produktivitas Padi Khas Semende Masih Terkendala Waktu Tanam yang Panjang

Bagi Muara Enim, investasi pada remaja berarti investasi terhadap kualitas sumber daya manusia beberapa tahun ke depan. Sebab, generasi emas tidak lahir hanya dari pendidikan akademik, tetapi juga dari lingkungan yang mampu melindungi mereka dari keputusan berisiko pada usia yang belum matang. (Eko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here