Beranda Utama Sport Tourism Bandung, Farhan Dorong Event Olahraga Jadi Penggerak Ekonomi dan Pariwisata...

Sport Tourism Bandung, Farhan Dorong Event Olahraga Jadi Penggerak Ekonomi dan Pariwisata Kota

7
0
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan sambutan dalam acara Lunch Gathering Pocari Sweat Run 2026 di Pendopo Kota Bandung, Sabtu (19/9/2026). Ia mendorong pengembangan olahraga sebagai penggerak ekonomi dan pariwisata daerah. (Foto: Dokumentasi Pemkot Bandung)(Foto: Holil/cimutnews)

BANDUNG – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mendorong pengembangan sport tourism sebagai salah satu penggerak ekonomi dan pariwisata daerah. Hal itu disampaikan dalam acara Lunch Gathering Pocari Sweat Run 2026 di Pendopo Kota Bandung, Sabtu (19/9/2026), dengan menekankan pentingnya penyelenggaraan event olahraga yang berdampak langsung bagi masyarakat serta didukung keamanan peserta.

Menurut Farhan, berbagai kegiatan olahraga di Kota Bandung tidak lagi sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga berpotensi menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, transportasi, perdagangan, dan jasa. Peningkatan jumlah agenda olahraga nasional maupun internasional dinilai membuka peluang bagi Bandung untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata berbasis aktivitas olahraga.

Event Olahraga Bandung Berpotensi Menggerakkan Ekonomi Lokal

Farhan mengatakan, pengalaman Kota Bandung menjadi tuan rumah berbagai kejuaraan olahraga menunjukkan bahwa dampak ekonomi tidak selalu bergantung pada besarnya jumlah penonton atau kemeriahan pertandingan.

Ia mencontohkan kejuaraan internasional bridge yang digelar tahun sebelumnya dan dihadiri sekitar 900 orang. Meski olahraga tersebut memiliki karakter pertandingan yang relatif tenang dan tidak banyak menarik perhatian masyarakat umum, kehadiran peserta tetap menciptakan aktivitas ekonomi di kota.

“Event olahraga tidak sekadar event. Percaya atau tidak, tahun lalu kita menjadi tuan rumah kejuaraan internasional bridge. Yang datang sekitar 900 orang,” kata Farhan.

Menurutnya, peserta yang datang dari luar daerah maupun luar negeri membutuhkan berbagai layanan selama berada di Bandung. Kebutuhan akomodasi, konsumsi, transportasi dan jasa pendukung menjadi bagian dari perputaran ekonomi yang dihasilkan sebuah kegiatan olahraga.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan wisata olahraga tidak hanya berfokus pada cabang olahraga populer, seperti lari atau bersepeda. Kompetisi dengan jumlah peserta yang lebih terbatas sekalipun dapat memberikan kontribusi ekonomi apabila dikelola dengan baik.

Pocari Sweat Run Jadi Bagian dari Pengembangan Sport Tourism

Farhan turut mengapresiasi penyelenggaraan Pocari Sweat Run Indonesia yang telah hadir di Bandung sejak 2017. Dalam dua tahun terakhir, Pemerintah Kota Bandung bahkan terlibat langsung dalam penyelenggaraan melalui kolaborasi dengan pihak penyelenggara.

Keterlibatan pemerintah daerah tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran kegiatan, terutama dalam koordinasi lintas wilayah, pengaturan lalu lintas, keamanan, serta pelayanan bagi peserta.

Baca juga  Jelang HUT RI, Pemkab OKI Gelar Aksi Peduli Veteran, Yatim dan Lansia

Farhan menyebut agenda olahraga di Bandung akan semakin padat, termasuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat yang melibatkan sejumlah daerah dan Jambore Sepeda Lipat Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026.

“Bandung akan semakin ramai menjadi tuan rumah berbagai kegiatan olahraga, baik yang kompetitif maupun yang berbentuk sport tourism,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan tersebut berpotensi memperluas pilihan wisata bagi pengunjung. Selain menikmati destinasi dan kuliner khas Bandung, peserta maupun pendamping dapat menggabungkan keikutsertaan dalam kegiatan olahraga dengan aktivitas rekreasi di berbagai kawasan kota.

Keamanan Pelari Menjadi Perhatian Pemerintah Kota

Di balik peluang ekonomi, Farhan menegaskan bahwa kenyamanan dan keamanan peserta harus menjadi prioritas penyelenggaraan. Salah satu persoalan yang disorot adalah keamanan barang milik pelari yang menggunakan masjid di sepanjang rute untuk menunaikan salat Subuh.

Ia mengungkapkan, pada pelaksanaan sebelumnya terdapat dua pelari yang kehilangan sepatu setelah melaksanakan ibadah sehingga tidak dapat mengikuti lomba.

“Saya sangat terkesan karena pengamanan masjid sangat baik. Beberapa bulan lalu ada dua pelari yang menangis karena tidak bisa mengikuti lomba karena sepatunya hilang setelah salat Subuh. Menurut saya, itu tidak boleh terjadi lagi,” kata Farhan.

Menindaklanjuti persoalan tersebut, Pemkot Bandung telah mengoordinasikan camat, lurah, dan anggota perlindungan masyarakat (Linmas) di wilayah yang dilalui lintasan lomba. Koordinasi ini diarahkan untuk memperkuat pengawasan di sekitar masjid dan memastikan barang peserta tetap aman selama mereka beribadah.

“Selama dua hari ini, kalau ada peserta yang menumpang salat di masjid, tidak boleh ada satu pun barang yang hilang,” tegasnya.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan event olahraga berskala besar membutuhkan dukungan masyarakat dan aparat kewilayahan, bukan hanya kesiapan panitia dan petugas teknis.

Penyesuaian Rute dan Pengamanan Titik Rawan

Selain pengamanan di masjid, Pemkot Bandung bersama penyelenggara juga memberikan perhatian terhadap sejumlah titik rawan atau pinch point di sepanjang lintasan lomba. Penyesuaian rute telah dilakukan dengan tetap mempertahankan sebagian besar jalur yang digunakan pada penyelenggaraan sebelumnya.

Farhan mengingatkan peserta agar meningkatkan kewaspadaan ketika melewati persimpangan dan kawasan di bawah jalan layang. Titik-titik tersebut memerlukan koordinasi yang baik antara pelari, marshal, petugas pengamanan, serta pengguna jalan lainnya untuk meminimalkan potensi gangguan selama lomba.

Baca juga  Program Pendataan Sosial Diluncurkan, Namun Akurasi Data Masih Jadi Sorotan

Pengaturan lintasan menjadi aspek penting karena kegiatan lari massal melibatkan banyak peserta yang bergerak dalam waktu bersamaan, sementara aktivitas masyarakat dan lalu lintas kota tetap berlangsung. Dengan demikian, keberhasilan acara tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau kelancaran perlombaan, tetapi juga dari kemampuan penyelenggara menjaga keselamatan dan kenyamanan seluruh pihak.

Interaksi Pelari dan Pengguna Jalan Jadi Kunci Kelancaran

Farhan juga mengapresiasi sikap peserta yang dinilainya mampu berinteraksi secara baik dengan pengendara dan masyarakat di sepanjang rute. Ia menilai komunikasi yang kondusif antara pelari, marshal, dan pengguna jalan turut mendukung kelancaran kegiatan.

Menurut Farhan, kekhawatiran mengenai potensi ketegangan antara petugas lapangan dan masyarakat tidak terjadi sebagaimana dikhawatirkan. Hal ini menjadi salah satu aspek positif dalam penyelenggaraan kegiatan olahraga yang menggunakan ruang publik.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa penyelenggaraan sport tourism memerlukan kesadaran kolektif. Peserta perlu mematuhi arahan petugas, marshal harus menjalankan tugas secara profesional, sedangkan masyarakat dan pengguna jalan diharapkan memahami pengaturan sementara selama kegiatan berlangsung.

Sport Tourism Membuka Peluang Ekonomi dan Tantangan Tata Kelola

Pengembangan wisata olahraga di Bandung memiliki peluang untuk memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas. Kedatangan peserta dari berbagai daerah dapat menciptakan permintaan terhadap penginapan, makanan dan minuman, transportasi, serta produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Namun, besarnya manfaat ekonomi tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah peserta. Durasi kunjungan, tingkat belanja wisatawan, keterlibatan pelaku usaha lokal, serta pemerataan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi kegiatan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Dalam konteks ini, kolaborasi Pemkot Bandung dengan penyelenggara Pocari Sweat Run dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk mengembangkan model acara olahraga yang terintegrasi dengan sektor pariwisata. Meski demikian, pengukuran dampak ekonomi melalui data transaksi, tingkat hunian hotel, dan keterlibatan UMKM diperlukan agar kontribusi kegiatan dapat dievaluasi secara lebih objektif.

Dari sisi tata kelola, semakin padatnya kalender olahraga juga menuntut kesiapan infrastruktur, pengelolaan lalu lintas, fasilitas publik, serta sistem pengamanan. Perhatian terhadap kehilangan barang peserta saat beribadah menjadi pengingat bahwa persoalan kecil dalam pelayanan dapat memengaruhi pengalaman pengunjung dan citra destinasi.

Baca juga  Meledak! Anggaran Administrasi Keuangan Perangkat Daerah Disnakertrans OKI Membengkak

Keberhasilan sport tourism tidak hanya ditentukan oleh kemeriahan acara, tetapi juga oleh kualitas pengalaman peserta sejak kedatangan hingga meninggalkan kota. Keamanan, keramahan warga, akses transportasi, dan kenyamanan fasilitas publik berpotensi memengaruhi keinginan peserta untuk kembali berkunjung.

Dibandingkan dengan kegiatan olahraga yang hanya berorientasi pada kompetisi, pendekatan wisata olahraga menuntut keterpaduan antara penyelenggaraan acara dan layanan kota. Namun, belum terdapat data pembanding jumlah peserta, nilai transaksi ekonomi, maupun tingkat kunjungan wisatawan dalam bahan informasi ini untuk mengukur pertumbuhan atau membandingkan dampak Pocari Sweat Run dengan event sebelumnya secara kuantitatif.

Bandung Perkuat Posisi sebagai Tuan Rumah Event Olahraga

Rangkaian agenda olahraga yang disiapkan Kota Bandung menunjukkan arah pengembangan kegiatan yang mencakup kompetisi dan wisata olahraga. Porprov Jawa Barat, Jambore Sepeda Lipat Nasional, serta Pocari Sweat Run menjadi bagian dari kalender kegiatan yang membutuhkan koordinasi antara pemerintah, penyelenggara, aparat keamanan, dan masyarakat.

Ke depan, kesinambungan penyelenggaraan dan evaluasi setiap acara akan menjadi faktor penting dalam mengoptimalkan manfaat bagi kota. Penguatan keterlibatan UMKM, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta sistem keamanan yang terukur dapat membantu memastikan kegiatan olahraga memberikan manfaat yang tidak berhenti pada hari perlombaan.

Bagi masyarakat, penyelenggaraan acara tersebut juga menghadirkan peluang usaha sekaligus tanggung jawab bersama untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan ruang publik. Pemerintah daerah dan penyelenggara diharapkan terus memperkuat koordinasi agar pertumbuhan wisata olahraga sejalan dengan kebutuhan warga.

Melalui kolaborasi pemerintah, penyelenggara, dan masyarakat, Bandung berupaya menjadikan event olahraga sebagai bagian dari pengembangan ekonomi dan pariwisata kota, dengan tetap mengutamakan keselamatan peserta serta kelancaran aktivitas masyarakat. (Holil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here