
MURATARA, cimutnews.co.id — Perjuangan menghadirkan akses pendidikan hingga wilayah perbatasan kembali mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. SMA Negeri Ketapat Bening resmi berdiri di Desa Ketapat Bening, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Rabu (15/7/2026).
Peresmian sekolah tersebut dipimpin langsung Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dan disambut antusias masyarakat yang selama bertahun-tahun berharap keberadaan sekolah menengah atas negeri lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.
Namun, berdirinya gedung sekolah baru juga memunculkan pertanyaan yang lebih besar. Apakah kehadiran SMA Negeri Ketapat Bening benar-benar akan menghapus kesenjangan akses pendidikan di wilayah perbatasan, atau masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan?
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menegaskan pembangunan SMA Negeri Ketapat Bening merupakan bagian dari pemerataan layanan pendidikan hingga pelosok daerah. Sekolah ini menjadi SMA negeri baru kedua yang dibangun Pemprov Sumsel setelah sebelumnya mendirikan sekolah serupa di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Wakil Bupati Muratara H. Junius Wahyudi, Wakapolres Muratara Kompol Ermi, Dandim 0406/Lubuk Linggau, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel Mondyaboni, Kepala Dinas Pendidikan Muratara Andri, serta jajaran perangkat daerah dari tingkat provinsi maupun kabupaten.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel, Mondyaboni, mengatakan pembangunan sekolah baru tersebut bertujuan memberikan kesempatan yang sama kepada anak-anak di wilayah perbatasan agar dapat melanjutkan pendidikan tanpa harus menempuh perjalanan yang jauh.
“Ini merupakan bentuk pemerataan pendidikan yang menjadi bagian dari visi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Kami ingin anak-anak di Muratara memiliki kesempatan yang sama memperoleh pendidikan berkualitas dan mampu bersaing masuk perguruan tinggi negeri,” ujarnya.
Menurutnya, kualitas pendidikan di SMA Negeri Ketapat Bening akan terus ditingkatkan meskipun berada cukup jauh dari pusat pemerintahan. Pemerintah juga berkomitmen memenuhi kebutuhan tenaga pendidik maupun sarana belajar secara bertahap.
Pada tahap awal operasional, sekolah tersebut didukung 10 tenaga pendidik, terdiri dari satu guru PNS yang merangkap sebagai Pelaksana Tugas Kepala Sekolah, satu guru PPPK, dan delapan guru honorer.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, membangun sekolah bukan satu-satunya tantangan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah perbatasan.
Di sejumlah daerah terpencil, persoalan distribusi guru, keterbatasan fasilitas laboratorium, perpustakaan, akses internet, hingga transportasi siswa masih kerap menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian berkelanjutan.
Keberhasilan pemerataan pendidikan pada akhirnya tidak hanya diukur dari berdirinya bangunan sekolah, tetapi juga dari kualitas proses belajar mengajar yang berlangsung setiap hari.
Di sisi lain, masyarakat menyambut positif hadirnya sekolah negeri tersebut karena selama ini sebagian siswa harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.
Sejumlah warga mengaku keberadaan SMA Negeri Ketapat Bening diharapkan mampu mengurangi biaya transportasi sekaligus memberikan rasa aman bagi orang tua yang sebelumnya harus mengirim anak bersekolah ke wilayah lain.
Meski demikian, beberapa warga berharap pemerintah tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Mereka menilai peningkatan jumlah guru tetap, kelengkapan fasilitas belajar, hingga pengembangan kualitas pendidikan harus berjalan seiring agar manfaat sekolah benar-benar dirasakan masyarakat.
Wakil Bupati Muratara H. Junius Wahyudi menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumsel atas pembangunan sekolah tersebut.
Menurutnya, keberadaan SMA Negeri Ketapat Bening merupakan jawaban atas aspirasi masyarakat yang telah lama menginginkan sekolah negeri lebih dekat dari tempat tinggal mereka.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur karena telah menghadirkan SMA Negeri di Ketapat Bening. Dengan adanya sekolah ini, anak-anak tidak perlu lagi keluar daerah untuk melanjutkan pendidikan,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru memberikan apresiasi kepada Firza H. Lakoni yang telah menghibahkan lahan untuk pembangunan sekolah.
Ia menegaskan letak geografis tidak boleh menjadi penghalang bagi masyarakat memperoleh pendidikan yang berkualitas.
“Kita akan terus meningkatkan kualitas tenaga pendidik maupun sarana dan prasarana. Meski berada di daerah yang jauh dari ibu kota provinsi, SMA Negeri Ketapat Bening harus mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lain,” tegas Herman Deru.
Gubernur juga mengingatkan pentingnya peran guru dalam membentuk karakter generasi muda serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Sumatera Selatan.
Meski demikian, pembangunan sektor pendidikan di wilayah perbatasan masih membutuhkan proses panjang. Hal ini menimbulkan pertanyaan, seberapa cepat kebutuhan guru, fasilitas belajar, hingga kualitas layanan pendidikan dapat dipenuhi secara merata.
Hingga kini, belum semua tantangan pendidikan di kawasan terpencil dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Keberadaan SMA Negeri Ketapat Bening menjadi langkah awal yang penting, namun efektivitasnya baru akan benar-benar terlihat ketika kualitas pembelajaran, angka partisipasi sekolah, serta prestasi siswa meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Apakah sekolah baru ini akan menjadi titik balik pemerataan pendidikan di Muratara, atau masih memerlukan dukungan kebijakan lanjutan agar manfaatnya benar-benar dirasakan seluruh masyarakat? Waktu yang akan menjawab. (Noto)

















