Beranda Nusantara Terungkap, Fasilitas Sampah Gedebage Jadi Ujian Baru Bandung

Terungkap, Fasilitas Sampah Gedebage Jadi Ujian Baru Bandung

3
0
Rencana pengembangan fasilitas pengolahan sampah di kawasan TPSOS Gedebage, Kota Bandung. (Foto: Siti/cimutnews.co.id)

KOTA BANDUNG, cimutnews.co.id — Pemerintah Kota Bandung menyiapkan fasilitas pengolahan sampah berkapasitas hingga 300 ton per hari di Tempat Pengolahan Sampah Organik dan Sisa (TPSOS) Gedebage. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.

Rencana itu muncul ketika persoalan sampah Bandung masih menghadapi satu masalah mendasar: kota ini belum memiliki tempat pemrosesan akhir sendiri dan masih bergantung pada fasilitas yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Di atas kertas, fasilitas Gedebage menawarkan solusi baru. Sampah tidak seluruhnya dikirim ke tempat pemrosesan akhir, melainkan diolah lebih dekat dengan sumbernya.

Namun, seberapa jauh fasilitas berkapasitas 300 ton per hari itu mampu mengubah persoalan sampah Bandung?

Bukan Sekadar Fasilitas Baru

Kesepakatan pengembangan fasilitas Gedebage ditandai melalui kerja sama antara Pemerintah Kota Bandung, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan kawasan Gedebage telah disurvei bersama pihak terkait dan dinilai memungkinkan untuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah dengan kapasitas 300 ton per hari.

Farhan menyebut pembangunan tersebut menjadi salah satu langkah yang disiapkan Bandung sambil menunggu kesiapan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka.

Menurut dia, Bandung membutuhkan solusi sebelum fasilitas regional tersebut benar-benar dapat beroperasi.

“Terus terang Kota Bandung itu satu-satunya ibu kota provinsi yang tidak punya TPA,” ujar Farhan pada 21 Agustus 2026.

Kondisi tersebut membuat pengelolaan sampah Bandung selama ini sangat bergantung pada fasilitas milik pemerintah provinsi, termasuk Sarimukti dan rencana pengembangan Legok Nangka.

Janji Teknologi Tanpa Bau

Konsep yang ditawarkan di Gedebage bukan sekadar memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain.

Baca juga  Kapolres Pidie Jaya Dukung Swasembada Pangan, Tinjau Lahan Jagung & Panen Terong Bersama Petani

Chief Technology Officer BPI Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan teknologi yang dipersiapkan menggunakan pendekatan terdesentralisasi. Artinya, sampah diharapkan dapat diselesaikan di wilayah regional tanpa seluruhnya dikirim menuju TPA.

Salah satu hasil pengolahan yang ditargetkan adalah Solid Recovered Fuel (SRF), yakni material dengan nilai kalor tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar industri.

Konsep tersebut memiliki dua target sekaligus: mengurangi volume sampah yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir dan menghasilkan material yang memiliki nilai ekonomi.

Sigit juga menyebut teknologi yang dipilih harus memenuhi aspek lingkungan.

Sistem pengolahan akan dirancang secara tertutup dan dilengkapi pengendalian agar aktivitas fasilitas tidak menimbulkan gangguan bau bagi masyarakat sekitar.

Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan Tantangannya Tidak Kecil

Kemampuan mengolah 300 ton sampah per hari memang terlihat besar. Tetapi angka tersebut juga perlu dilihat dalam konteks keseluruhan timbulan sampah Kota Bandung.

Fasilitas Gedebage pada tahap awal dirancang sebagai pilot project. Artinya, keberhasilan fasilitas ini belum otomatis menyelesaikan seluruh persoalan sampah kota.

Justru dari sini muncul persoalan berikutnya.

Jika proyek percontohan tersebut berhasil, Pemkot Bandung berencana mereplikasinya ke subwilayah kota atau SWK lainnya. Dengan demikian, fasilitas Gedebage akan menjadi semacam pengujian awal apakah model pengelolaan sampah terdesentralisasi benar-benar dapat diterapkan dalam skala lebih luas.

Di sisi lain, pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi pengolahan.

Pemilahan sampah dari sumber, pola pengangkutan, kapasitas fasilitas, kesinambungan operasional hingga kepastian pasar untuk produk SRF juga menjadi bagian penting dari rantai pengelolaan.

Jika salah satu mata rantai tersebut tidak berjalan, pengurangan beban TPA bisa saja tidak sesuai harapan.

Investasi Puluhan Miliar, Hasilnya Masih Harus Dibuktikan

Baca juga  Wali Kota Blitar Teken MoU dengan Pemkab Blitar, Wujudkan Blitar ASRI Menuju Blitar Raya Berdaya dan Tangguh

Dari sisi pembiayaan, kebutuhan investasi awal fasilitas berkapasitas 300 ton per hari diperkirakan sekitar Rp50 miliar hingga Rp60 miliar.

Angka tersebut masih berupa estimasi awal dan kebutuhan investasi masih dalam proses penghitungan.

Pemkot Bandung sendiri tengah menyiapkan berbagai aspek administrasi, termasuk finalisasi perubahan anggaran 2026 serta penyusunan Kebijakan Umum Anggaran 2027.

Dengan nilai investasi puluhan miliar rupiah, fasilitas ini tentu bukan sekadar proyek fisik.

Keberhasilannya kelak akan sangat ditentukan oleh kemampuan fasilitas mengolah sampah secara konsisten, menjaga standar lingkungan, sekaligus memastikan produk hasil pengolahan benar-benar memiliki pasar.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah teknologi yang dipilih mampu bekerja sesuai target ketika berhadapan dengan kondisi sampah perkotaan yang sebenarnya?

Perguruan Tinggi Ikut Masuk

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi turut dilibatkan dalam pengembangan proyek tersebut.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan perguruan tinggi melakukan berbagai kajian untuk mendukung percepatan penyelesaian persoalan sampah di berbagai daerah.

Kajian tersebut mencakup pengolahan sampah organik maupun nonorganik, termasuk pemanfaatan maggot dan SRF sebagai bahan bakar.

Pendekatan tersebut diklaim disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah serta pembelajaran dari teknologi yang telah diterapkan di sejumlah negara.

Namun, proyek Gedebage masih berada pada tahap awal.

Pemerintah menyebutnya sebagai pilot project. Jika berhasil, pembangunan serupa diharapkan dapat diterapkan pada SWK lainnya di Kota Bandung.

Pertanyaan Besarnya Bukan Hanya soal Teknologi

Persoalan sampah pada akhirnya tidak berhenti pada seberapa canggih teknologi yang digunakan.

Ada persoalan kebiasaan masyarakat, pemilahan dari rumah, sistem pengangkutan, keberlanjutan pembiayaan, penerimaan lingkungan sekitar hingga kepastian industri yang menyerap SRF.

Berdasarkan rencana yang disampaikan pemerintah, fasilitas Gedebage memang berpotensi menjadi bagian penting dari perubahan sistem pengelolaan sampah Bandung.

Baca juga  Wali Kota Bandung Serahkan Bantuan Baznas Rp25 Juta untuk Pemulihan Ponpes Al-Falah Pascakebakaran

Tetapi hingga kini, efektivitasnya belum bisa dinilai karena fasilitas tersebut bahkan ditargetkan baru beroperasi pada awal 2027.

Artinya, masih ada sejumlah tahapan yang harus dilewati sebelum janji pengurangan ketergantungan terhadap TPA dapat diuji di lapangan.

Dan bagi masyarakat, ukuran keberhasilan pada akhirnya bukan hanya berdirinya fasilitas baru.

Yang lebih penting adalah apakah timbulan sampah benar-benar berkurang, lingkungan tetap aman, proses pengolahan berjalan konsisten, dan beban persoalan sampah yang selama ini dirasakan Bandung benar-benar ikut menyusut.

Hingga kini, proyek Gedebage masih menyisakan pertanyaan penting: apakah fasilitas berkapasitas 300 ton per hari ini akan menjadi titik balik pengelolaan sampah Bandung, atau justru menjadi proyek percontohan yang masih membutuhkan banyak fasilitas pendukung agar dampaknya benar-benar terasa? (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here